Jerman Tak Terima Rusia Tuntut Demiliterisasi negeri Ukraina

LONDON – Kanselir Jerman Olaf Scholz mengungkapkan tuntutan Rusia bahwa negeri Ukraina harus demiliterisasi sebagai persyaratan perdamaian tiada dapat diterima.
Menurutnya, keamanan Eropa harus berpusat dalam sekitar negeri Ukraina yang digunakan kuat.
Sikap Jerman itu disampaikan pasca Awal Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan rencana untuk koalisi baru bagi negara-negara yang bersedia menyokong Kyiv melawan Moskow.
Rusia selama ini berpendapat bahwa perangnya melawan tanah Ukraina dipicu oleh ekspansi NATO ke perbatasannya.
Moskow juga mengesampingkan gencatan senjata sementara, bersikeras pada resolusi permanen.
Lebih lanjut, Ibu Kota Rusia menegaskan bahwa perdamaian dapat dicapai apabila negeri Ukraina berazam pada netralitas, demiliterisasi, serta denazifikasi, juga mengakui realitas teritorial pada lapangan.
Berbicara untuk wartawan pasca konferensi puncak darurat Eropa di area London, Scholz tiada menyebutkan apakah Berlin akan mengerahkan pasukan ke Ukraina. Namun, beliau menekankan dukungan finansial serta militer yang digunakan berkelanjutan untuk Kyiv.
“Jelas bahwa kita harus menggalang tanah Ukraina secara finansial juga dengan cara militer,” katanya, mencatat bahwa Berlin sendiri telah lama mengoleksi total €44 miliar untuk Kyiv, sebagaimana dilansir dari Russia Today, Hari Senin (3/3/2025).
Menurut Kiel Institute, Jerman adalah donor negara perorangan terbesar kedua, menyumbang sekitar USD18 miliar pada bentuk bantuan militer serta bantuan lainnya.

