Mitigasi Inklusif Kolaboratif Organisasi Jadi Model Ideal Hadapi Bencana Non Alam Pandemi

MEDAN – Pandemi pandemi Covid-19 yang mana berlangsung di kurun waktu 2020-2022 telah terjadi memberikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia pada menangani bencana nonalam. Ditemukan model kebijakan keseimbangan yang terbukti mampu menjadi instrumen penting di penanganan Covid-19.
Temuan itu terungkap dari hasil penelitian disertasi Sudiyatmiko Aribowo, siswa doktoral Proyek Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara (USU) yang disampaikan di ujian Promosi Doktor, Rabu (8/1/2025). Dalam temuan risetnya, Miko menggunakan konsep policy learning yakni pengambilan kebijakan merupakan hasil dari pembelajaran yang tersebut sistematis serta penyelenggaraan yang dimaksud rasional. Idea yang dimaksud dipadu dengan pendekatan inkremental yakni menempatkan policy learning pada formulasi lalu implementasi kebijakan yang tersebut bertujuan menyempurnakan kebijakan secara gradual.
“Temuan yang didapatkan dari penelitian di area Sumatera Utara ini ditemukan model kebijakan keseimbangan pada penanggulangan pandemi wabah Covid-19 yang digunakan dirancang kompatibel dengan budaya di area daerah,” kata Miko di paparannya pada hadapan komite penguji, Rabu (8/1/2025).
Menurut salah satu Presidium Asosiasi Sarjana Hukum Tata Negara (ASHTN) Indonesia ini, implementasi model keseimbangan di penanganan pandemi wabah Covid-19 dapat terlihat di penanganan pandemi dengan menyeimbangkan antara kebijakan protokol kondisi tubuh dan juga penanganan medis juga kebijakan stimulus perekonomian kemudian bantuan sosial di tempat sisi yang mana lain.
“Tentu dari kebijakan yang dimaksud ditopang dengan koordinasi para pemangku kepentingan terdiri dari koordinasi pentahelix yakni kolaborasi pemerintah pusat, daerah, akademisi, bisnis, masyarakat, lalu media,” kata Miko.
Alumnus Magister Hukum Universitas Indonesia (UI) ini menguraikan pada mengimplementasikan model kebijakan keseimbangan pada waktu penanganan penyebaran virus Corona pada Sumatera dijalankan dengan mitigasi inklusif kolaboratif organisasi.
“Uraiannya yakni kebijakan tunggal dan juga terkoordinasi, kepemimpinan yang tersebut kuat lalu responsif, sinergi kelembagaan, kemudian melibatkan sumber daya yang dimiliki secara massif,” kat Miko.
Menurutnya, model kebijakan keseimbangan ini dapat diterapkan pada pelbagai tempat kemudian kesempatan dengan menerapkan empat prinsip penting yakni keseimbangan mitigasi, keseimbangan inklusif, keseimbangan kolaboratif, lalu keseimbangan organisasi.
“Nah, seperti ketika ini sedang padat jadi sorotan tentang masuknya virus Human Metapneumovirus (HMPV) yang mana terdeteksi masuk ke Indonesia, model kebijakan keseimbangan ini dapat dijadikan instrumen di penanganan. Yang penting jangan menyepelekan setiap virus yang dimaksud masuk,” kata Miko.
Sudiyatmiko Aribowo berhasil mempertahankan disertasinya pada hadapan majelis penguji yakni Prof Dr Muryanto Amin, S.Sos., (Rektor/Promotor); Prof Subhilhar, MA, Ph.D, (Ketua Rencana Studi Doktor Studi Pembangunan/Co-Promotor); Prof Drs Heri Kusmanto, MA, (Sekretaris Inisiatif Doktor Studi Pembangunan/Co Promotor); Dr Hatta Ridho S.Sos, M.SP (Dekan Fakultas Keilmuan Sosial kemudian Keilmuan Politik/Direktur Sekolah Pascasarjana USU); Dr Tengku Irmayani, M.Si, (Sekretaris Inisiatif Magister Studi Pembangunan); lalu Prof Dr Drs Sam’un Jaja Raharja, M.Si, selaku Penguji Luar Komisi, dengan predikat sangat memuaskan.

